Makna Sebuah Titipan
WS Rendra
Sering kali
aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa :
sesungguhnya
ini hanya titipan,
bahwa
mobilku hanya titipan Allah
bahwa
rumahku hanya titipan Nya,
bahwa
hartaku hanya titipan Nya,
bahwa
putraku hanya titipan Nya,
tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia
menitipkan padaku?
Untuk apa
Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau
bukan milikku,
apa yang
harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku
memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa
hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta
kembali oleh-Nya?
Ketika
diminta kembali,
kusebut itu
sebagai musibah
kusebut itu
sebagai ujian,
kusebut itu
sebagai petaka,
kusebut
dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu
adalah derita.
Ketika aku
berdoa,
kuminta
titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin
lebih banyak harta,
ingin lebih
banyak mobil,
lebih banyak
popularitas,
dan kutolak
sakit,
kutolak
kemiskinan,
seolah semua
“derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin
beribadah,
maka
selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat
dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan
Dia seolah mitra dagang,
dan bukan
kekasih.
Kuminta Dia
membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak
keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan
matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika
langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”
~ WS Rendra
Kontributor : Soemarsono, SON [04.05.15 11:31]






0 komentar:
Posting Komentar