Gedung Elnusa

Pengabdian yang tulus dan pembelajaran tentang hidup diantaranya berasal dari sini

Best Moment

Bersama dalam suasana bahagia

Harmonisasi

Kebersamaan yang tak kunjung usai

Warna warni ReUni

Kekeluargaan, persahabatan nan tulus sampai akhir hayat

Warna warni Pelangi

Sebagian ada disini

Selasa, 05 Januari 2016

DIALOG GUS DUR DAN SANTRI

DIALOG GUS DUR DAN SANTRI

Santri     : "Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!"
Gus Dur : "Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang."
Santri     : "Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak tahulah, saya kan juga belum pernah nyicip. Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya."
Santri   : "Kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus? Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?"
Gus Dur : "Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi."
Santri     : "Anti-aging gitu, Gus?"
Gus Dur : "Iya. Pokoknya kekal."
Santri     : "Terus Nabi Adam percaya, Gus? Sayang, iblis kok dipercaya."
Gus Dur : "Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam."
Santri     : "Maksudnya senior apa, Gus?"
Gusdur   : "Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa."
Santri      : "Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?"
Gus Dur  : "Iblis itu dulunya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam."
Santri     : "Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara–garanya, aku jadi miskin kayak gini."
Gus Dur : "Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi."
Santri      : "Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?"
Gus Dur  : "Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).
Santri      : "Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?"
Gus Dur : "Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi."
Santri      : "Aneh."
Gus Dur  : "Kok aneh? Apanya yang aneh?"
Santri      : "Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan."
Gus Dur : "Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat."
Santri     : "Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak."
Santri     : "Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?"
Gus Dur : "Dua-duanya."
Santri     : "Kok dua-duanya?"
Gus Dur : "Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan."
Santri     : "Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus."
Gus Dur : "Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-

Mochamad Achyadi Rifai Ach, [02.01.16 16:22]
sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat."
Santri      : "Ooh…"
Gus Dur : "Jadi intinya begitulah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong."
Santri      : "Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?"
Gus Dur  : "Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu."
Santri      : "Masa sih, Gus?"
Gus Dur  : "Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok."
Santri      : "Terus, kesalahan terbesar dia apa?"
Gus Dur  : "Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran."
Santri      : "Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh."
Gus Dur  : "Siapa? Ente?"
Santri     :  "Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus. Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Mereka tuduh kafir, ahli bid'ah, ahli neraka. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh."
Gus Dur   : "Wah, persis Iblis tuh."
Santri       : "Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya."
Gus Dur   : "Siap mati, tapi tidak siap hidup."
Santri       : "Bedanya apa, Gus?"
Gus Dur   : "Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama."
Santri       : "Lho, kok begitu?"
Gus Dur  : "Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga."
Santri        : "Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?"
Gus Dur    : "Pinter kamu, Kang!"
Santri        : "Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur."

Sumber : Perpustakaan Universitas Menyan Indonesia (UMI)

Kontributor : Mochamad Achyadi Rifai Ach

Selasa, 16 Juni 2015

Map Alamat Alumni Elnusa

Ingin mengetahui map alamat teman teman, silahkan klik Judul atau Read more.

Senin, 18 Mei 2015

Dana Duka Cita (DUTA)

All de TOM, ARA, GN.

Re kepada proses dana untuk bantuan teman kita yg mengalami musibah ( meninggal dunia ) mulai dari rapat panitia Reuni sampai dgn diskusi di GTAEN dan WAPEN, dapat kami informasikan hasilnya dgn ketentuan sbb:

1. Sumbangan untuk teman kita yg meninggal dunia ditampung didalam sebuah wadah yg disebut Dana "Duka Cita" disingkat Dana DUTA

2. Sumbangan ini bersifat sukarela, tdk mengikat, tdk ditentukan besarnya dan bukan merupakan iuran tiap bln.

3. Telah ditetapkan ARA sebagai pengelola Dana DUTA ini, dan pada hari Rabu tgl 13 Mei 2015 telah dibuka rekening Tabungan di Bank Mandiri atas nama Abdul Rachman Agus dgn nomor rekening 127 000 721 4115.
Rekening Tabungan tsb khusus hanya digunakan untuk transaksi Dana DUTA dan tdk akan digunakan untuk transaksi lainnya.

4. Pada waktu melakukan trnsfr sumbangan ke acc ARA, mohon sesdhnya di info ke ARA via Japri.

5. Telah ditetapkan dan disepakati sumbangan kepada teman yg meninggal dunia sebesar Rp. 2.000.000,- ( dua juta rupiah ) dan besaran tsb dapat berubah dgn adanya perubahan dalam bidang ekonomi.

6. Tiap akhir bln ( bila ada transaksi dibln tsb ), ARA akan print buku Tabungan Dana DUTA dan 1 copy dikirim kepada TOM selaku Ketua/Koordinator Reuni Alumni Elnusa untuk monitor.

7. Laporan bulanan akan di broadcast ( di GTAEN, WAPEN, BBM Mantel, Milis Himpenusa ), oleh ARA tiap awal bln ( bila ada transaksi dibln seblmnya ) yg berisi jumlah teman2 yg menyumbang dan jumlah total sumbangan.
Apabila ada teman ingin laporan detail, dapat diminta ke ARA via Japri dan ARA akan copy buku tabungan dan dikirim kepada ybs via pos dimana didlm copy tsb akan diberi tanda "rahasia/confidential" dgn asumsi ybs sdh maklum/mengerti dan bertanggung jawab sehubungan dgn istilah tsb.

Semoga Allah akan menaungi diri kita karena kita telah membantu mempermudah kesulitan orang lain dalam hal ini teman kita.

Wassalam,
TOM, ARA, GN.

Jumat, 15 Mei 2015

Do'a dan Sapaan untuk yg sakit agar kembali Sehat.

SUC :
Kabar dari pak Naryo,
Assalamualaikum, info pak Abdulatif Kamun sakit dan dirawat di RS Islam Cempaka Putih, gedung Shafa Lantai 2 kamar 6. Wassalam.

Rud de Suc, sampai di RS Islam jam Bezuk nya jam 5 sore, ya udah ngebaso dulu.
3:57:42 PM
Frits R. Lumentut/RUD
Bambang Sutjahjono Dipo / SUC
Rud de Suc, sampai di RS Islam jam Bezuk nya jam 5 sore, ya udah
Ok SUC semoga pak Latief cepat sembuh ya. Oh ya katanya pendengarannya beliau sudah kurang baik, jadi jangan pelan2 bicaranya dalam hangat buat beliau ya. Syukron ya syech.
3:58:17 PM
Maksudnya salam hangat buat pak Latief
4:16:59 PM
Suparsono-TA
SUC de sup, tlg sampaikan doa u/ beliau, smg Allah sgr mengangkat penyakit'y dn sgr cpt berkumpul brsama kelg.
4:21:03 PM
Suparsono-TA
Amiinn YRA.
ES
4:22:16 PM

Sof, kata't RS Islam cempaka putih. Jak.tim.
4:51:08 PM
Soenarto : Semoga p' LATIEF cepat sembuh. Amin yra.
5:10:15 
5:18:50 PM
Gunarno/GN
Semoga teman kita Latief cepat sembuh dan bisa beraktifitas kembali. Aamiiin....
5:21:32 PM
Nana Nurana
Aamiin YRA... Alhamdulillah wajahnya masih cukup segar...semoga cepat pulih.
5:38:59 PM
StepanusSardjono
Amin. YRA.
Semoga cepat pulih seperti sedia kala.
5:46:55 PM
5:54:53 PM
timbul basuki
Semoga p' LATIEF cepat sembuh. Amin yra.
5:55:01 PM
Suroyo
Semoga pak Latief segera sembuh....Aamiin yra
6:26:40 PM
Zuher Zaidan
Semoga pak Latief cepat sembuh. Amiin yra.
6:28:57 PM
Mochamad Achyadi Rifai Ach
Amin. YRA.
Semoga cepat pulih seperti sedia kala.
6:29:58 PM
Dedi S Wiharja
Semoga pak Latief lekas sembuh....Aamiin YRA
6:32:28 PM
RamliUmar-EN
Amin. YRA.
Semoga cepat pulih seperti sedia kala.
6:50:29 PM
Sonhaji
Semoga p' LATIEF cepat sembuh. Amin YRA
TT
6:51:33 PM
TotoSuhartono(TST)
Semoga teman kita Pa Latif segera pulih kembali. Amen






Kamis, 14 Mei 2015

Rekening Dana Musibah/Kematian

Hal2 yg penting tentang mobilisasi Dana Musibah/Kematian disampaikan oleh ARA, RAN dan GN :

Kontributor ARA :

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh..no rekeningnya adalah. Bank Mandiri a/n Abdul Rachman Agus no 1270007214115....Terima kasih atas amamah mulia yang diberikan pada saya...maaf saya belum bisa komentar panjang ..mengingat saya masih diperjalanan. Wassalamu'alaikum.

Alhamdulillah sudah sampai rumah.

Insya Allah minggu depan apakah hari senin atau hari selasa (18/19-5) saya bermaksud takziah dan tausiah ke rumah keluarga almarhum (Kel Alm. Syaiful Bachri yg wafat tgl. 12 Mei 2015, red). Saya akan bawa infaq dari teman-teman, yang mau ikut bisa juga sih diatur saja. 

Rumah saya di Jatibening kekarawaci lewat cawang, slipi masuk tol tangerang.
Oh ya, kalau ada yang berinfaq bisa juga laporannya melalui japri saya. Nanti secara global laporannya saya broadcast. Terimakasih

Wassalam


Kontributor RAN :

All the Ran.
Assalaamualaikum Wwb.
Bismillahirrahmaanirrahiim.

Shahabat semua yg dimulyakan Allah. Ada hal yg menarik pasca kepergian untuk selama lamanya rekan kita Allah Yarham Syaiful Bahri ...semoga Allah menerangi, melapangkan dan merahmati quburnya aamiin.
Bermula dari sebuah usulan mulia untuk menyumbangkan rizkinya kepada keluarga yg ditimpa musibah terutama yaitu musibah kematian. Dimana hal ini sebelumnya memang sudah dibicarakan dalam suatu pertemuan kecil di tempat kediaman Pak Gun, hadir terlebih dahulu Ibu Rita Marlina (RIM),Tom,MmEnny, saya sendiri yg datang belakangan, Pak Gun sbg tuan rumah, kebetulan Bu Yas sedang berhalangan hadir.
Dalam pertemuan tersebut saya mendengarkan niat dari Panpel Reuni yang baru lalu untuk sekedar membantu meringankan keluarga yg ditimpa musibah terutama kematian, ini diambil jika dimungkinkan dari dana yang ada di panpel.
Pak Gun menyarankan, yang pertama, karena dana yg ada adalah dana khusus untuk reunian atau rekreasi, yang kedua, sumbangan untuk musibah kematian biasanya dilakukan secara spontan dari pribadi masing2, tetapi juga pak Gun ingin mengupayakan bagaimana mengakomodir rekan2 yg jauh yg juga ingin menyumbang, karena sumbangan kematian bersifat keikhlasan pribadi maka samasekali dlm pertemuan hari Jum'at tgl 17 April 2015 ini tidak dibicarakan batas besaran2 berapa nilai yg akan disumbangkan.
Disinilah awal dari niatan mulia ini walaupun baru berbentuk wacana itu sudah dimulai, berhubung waktu pelaksanaan reuni tinggal 2 hari ( 19 April'15) maka formula untuk menggoalkan niat itu perlu dibicarakan lebih lanjut.
Alhamdulillah Allah memberi petunjuk sejalan dengan waktu, pasca meninggalnya rekan kita sdr Syaiful Bahri, dan lewat usulan dari sahabat kita Zal yg diiringi tanda setuju dan diwarnai pendapat2 yg bermunculan layaknya dalam suatu konferensi jarak jauh, ini suatu keniscayaan, karena setiap orang punya pendapat yg berbeda beda.
Adapun pendapat, yg keluar seperti hitungan2, besaran2, bagaimana urusan adm, bgmn laporannya, apakah mau rutin menyumbang, atau kalau ada rizki saja, bagaimana formulasinya, ini sekali lagi kita anggap sebagai stimulan atau masukan2 yg bertujuan positive yang sekarang sedang akan dibicarakan oleh Pak Gun, Tom, dan Ustadz Ara.
Sebagai sesama anggota kita ucapkan terma kasih tentunya kepada rekan yg spontan menyumbang yg diawali oleh sahabat kita Erdius dkk, yg merupakan penyemangat dalam upaya salah satu dari Fastabaqulkhairot, marilah kita doakan semoga dalam pelaksanaan seterusnya yg In Syaa Allah sudah jelas formulasinya, upaya ini mendapat kemudahan dan Ridho serta Berkah dari Allah SWT. Aamin, Aamin, ya Robbal Alamin. 
Wassalaamualaikum. Wwb.

Kontributor GN :

Saya setuju sekali, bhw info trnsfr supaya di japri ke ARA.
Pertama karena asal muasalnya adalah "saweran".
Klu kita melayat dan memberi "saweran" biasanya masuk amplop kecil dan diselipkan di "baskom" yg ada. Jadi tdk ada yg tahu brp besarnya, yg kena musibahpun tdk tahu..,.
Kedua ARA sebagai adm dana, dgn info di japri menjadi lebih ringan tugasnya.
Coba klu ARA lagi ada tugas ( beri tausyiah dll ) dan baru buka Telegram atau Paguyuban 6 jam kemudian dan hrs scroll kebelakang untuk mencari siapa yg sdh transfr, bisa2 stress ARA ( sdh brp puluh chat, photo dan video ).
Klu kita sdh percayakan kepada ARA ya sebaiknya kita ikhlas. 
Ini usul saya, laporan secara global bisa dibroadcast. Klu laporan detail akan diberikan kepada teman yg minta. 
Begitu tanggapan saya.




Selasa, 12 Mei 2015

Makna Sebuah Titipan



Makna Sebuah Titipan
WS Rendra

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa :
sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”
                                                                       
                                                                              ~ WS Rendra
 Kontributor : Soemarsono, SON [04.05.15 11:31]